Bencana Di Padang Karbela
Menggelepar pasir dicekik matahari
Selagi dosadosa bertolakpinggang
Kudakuda dan pedang hitam haus darah
Angin kejahilan mengibarkan angkaranya
Di debu membuat jubahnya merajalela
Menyerpihkan keyakinan yang dipunyai mereka
Selembar keyakinan di dadanya yang ber Tuhan
Mengibaskan sayapnya di atas keadilan dan
kebenaran
Menentang mereka yang tak percaya dan lupa
Bahwa dirinya tak seberapa
Orangorang muslim melepaskan bersama lestari dengan airmata
Dan napasnapas kebesaran Tuhan
Kepada pahlawannya yang berjubah putih
Mata orang Kufah setajam tombak beracun,
menyeringai
Ditentangnya dengan hati padat kalimah Tuhan
Allahu Akbar
Menggelepar sepuluh Muharram dirajam angkara
murka
Matahari memerah pucat menjuraikan tabirnya
Menghayati tubuhtubuh yang teserpih berkuah darah
Pasir pun menggigit bibirnya yang tajam
Bahwa belasungkawanya
Lalu pedang
berayun menggores sejarah islam
Seirama kehendak Tuhan dan cobaannya
Husien menghadapNya diantar berpuluhpuluh
malaikat
Bersama firmanNya yang suci
Darahnya menghiasi dada tiap muslim
Kemudian membentuk karangan bunga mengagungkan yang hakiki
Dipasrahkan ummat islam dalam sejarahnya
Banjarmasin, 1970
Kuli Pelabuhan
Seorang kuli pelabuhan
Kurus kering, usianya rambut dua
Memanggul karung ke gudang luas
Menggigil dan miringmiring
Peluhnya mengucur deras
Menghindarkan lamunannya
Dalam hingarbingar manusia
Di tengah rengkah panggangan matahari
Serine kapal mencibir di telinga
Kapal berlabuh dan perahu mengangkat sauh
Dan kakek mengoceh sendiri, sendu
Untuk mereka yang dimabukkan anggur dunia
Selagi karung padat membebani hidupnya
Otot kejang menyentaknyentak dan menggila
Dada dan hati merekah luka
Ruang terbuka menyimpan hasrat
Anganangan masa tua
Tertutup debu gudang luas
Dan timbunan karung tumpukan deritanya
Seorang kuli pelabuhan, kurus kering, matanya lesu
Memanggul karung ke gudang luas
Peluhnya deras mengental di pelabuhan
Antara kapal berlabuh
Banjarmasin,1970
Sebelum Usai Senja
:yati.ls
Sebelum kau singkap gaunmu
Rambutmu sudah menyentuh dadaku
Angin dingin, Dan kau berkata sesuatu
Tapi aku seperti tak tahu
Kulihat gemawan turun
Jingga dan samar caya
Kau tahu ? Hari bakal kelam
Dan kita makin tenggelam
Lalu kau betulkan dudukmu
Sementara bau wangi itu masih
Kau simpan dalam bajuku
Banjarmasin, 1977
Ada Yang Mengintipku
Kelambu sudah kupasang
Ah ! Ada siulan gaib
Di kastok di dinding
Selembar jubah hitam bergoyang
Remangremang mata kucing
Tajam menusuk
Di luar amat gelapnya malam
Kucium bau cendana
Diam hatiku diam wahai
Ada orang membaca al furqan
Sudah jam berapa ?
Di dinding seekor cecak melarikan diri
Engkaukah ?
Di balik lubang kunci
Bersiul dan
Menapaskan angin malam
Diam diam hatiku wahai
Banjarmasin, 1975
Senin, 14 April 2008
edisi 8
Di Luar Panggung Sandiwara
Akhirnya pun terjadi
Racun yang kuminum itu
Benarbenar membuat aku keracunan
Tapi tak apalah demi kebaikanmu
Dalam aku berlari
Mengobatinya sendiri
Banjarmasin, 1976
Kulihat Langit Tak Seperti Kemarin, Kini
Aku Yakin Hari Esok Lebih Tak Disangka
Kebutuhanku
Kurasa hari ini lebih baik
Mencukur kumis jenggot
Dan memotong kuku
Dari pada duduk di warung kopi
Banjarmasin, 1976
Mabuk
Aku terhuyunghuyung dan
Tak terasa tanganku
Menampar kaca jendela
Aku terpaku dan
Sambil kusebut namamu
Kupunguti hatimu yang hancur
Banjarbaru, 1978
Tak Kuatir Punggungku Di Bawah Mentari
Kuayun Cangkul Dan Bibit Ini Siap Pengganti
Hutan Dan Semak
Untung hari ini aku tidak mengorek telingaku
alangkah tajamnya tusukan lidah
orangorang yang mabuk
Banjarmasin, 1976
Napsu
1
Ketika ingin berbaring
Seekor ular melingkar di ranjang
Tak habis kumengerti
Mengapa tubuhku kaku begini
2
Kau merasa bangga
Dapat menggenggam dunia
Tapi tak sadar ada yang
Mengalir di selasela jarimu
Itulah kehidupan hakiki
3
Kau hapus jejak noda yang kau buat
Lalu merasa puas orangorang tak tahu
Namun kau tak tahu siapa yang
Melihat gerakgerikmu itu
4
Kau balikkan fakta
Hingga menang dalam perkara
Ingat jika bercermin
Bukan wajahmu yang nampak
5
Sepasang burung menanggalkan sayapnya
Wiwit lalu membenamkan diri kerimbun daun
Tibatiba ranting itu menanggalkan daunnya
Wiwit mencari dirinya yang hilang
6
Rupanya apa pun kaujalani
setiap jengkal tak ada batas
Yang membatasi
Seperti langit
Kau tebar benih di rahimnya
Lalu lahirlah bianglala
Di atas bumi tanpa nama
Tanpa suara
Dan kau
Lupa
7
Berkelana tanpa kaca
Menjilatjilat semua impian
Yang kau gantungkan di sana
Ternyata kau lupa tempatnya
8
Orangorang tak pernah mau dengar
Bagaimana gema penghabisan keluh
Orang tak punya rumah
Berjalan di padang luas
Ke permukiman yang tak pasti
Dan tak tahu lagi asalusulnya
Negeri apa
Nun langit gairah kelabu
Menaburkan pasir bila dipijak
Tak meninggalkan jejak
Orangorang tak pernah mau dengar
lagi keluhan hatinya sendiri
9
Anggur selusin piala
Merasuk dalam jiwa
Pesona tak lagi lahir dari pikiran
Dan akal pun jatuh ke balik impian
Sebelum larut dalam bisikan
Ada yang tercecer dari kehidupan
Sebab di balik tabir semesta
Suara sonder katakata
Banjarbaru, 76
Akhirnya pun terjadi
Racun yang kuminum itu
Benarbenar membuat aku keracunan
Tapi tak apalah demi kebaikanmu
Dalam aku berlari
Mengobatinya sendiri
Banjarmasin, 1976
Kulihat Langit Tak Seperti Kemarin, Kini
Aku Yakin Hari Esok Lebih Tak Disangka
Kebutuhanku
Kurasa hari ini lebih baik
Mencukur kumis jenggot
Dan memotong kuku
Dari pada duduk di warung kopi
Banjarmasin, 1976
Mabuk
Aku terhuyunghuyung dan
Tak terasa tanganku
Menampar kaca jendela
Aku terpaku dan
Sambil kusebut namamu
Kupunguti hatimu yang hancur
Banjarbaru, 1978
Tak Kuatir Punggungku Di Bawah Mentari
Kuayun Cangkul Dan Bibit Ini Siap Pengganti
Hutan Dan Semak
Untung hari ini aku tidak mengorek telingaku
alangkah tajamnya tusukan lidah
orangorang yang mabuk
Banjarmasin, 1976
Napsu
1
Ketika ingin berbaring
Seekor ular melingkar di ranjang
Tak habis kumengerti
Mengapa tubuhku kaku begini
2
Kau merasa bangga
Dapat menggenggam dunia
Tapi tak sadar ada yang
Mengalir di selasela jarimu
Itulah kehidupan hakiki
3
Kau hapus jejak noda yang kau buat
Lalu merasa puas orangorang tak tahu
Namun kau tak tahu siapa yang
Melihat gerakgerikmu itu
4
Kau balikkan fakta
Hingga menang dalam perkara
Ingat jika bercermin
Bukan wajahmu yang nampak
5
Sepasang burung menanggalkan sayapnya
Wiwit lalu membenamkan diri kerimbun daun
Tibatiba ranting itu menanggalkan daunnya
Wiwit mencari dirinya yang hilang
6
Rupanya apa pun kaujalani
setiap jengkal tak ada batas
Yang membatasi
Seperti langit
Kau tebar benih di rahimnya
Lalu lahirlah bianglala
Di atas bumi tanpa nama
Tanpa suara
Dan kau
Lupa
7
Berkelana tanpa kaca
Menjilatjilat semua impian
Yang kau gantungkan di sana
Ternyata kau lupa tempatnya
8
Orangorang tak pernah mau dengar
Bagaimana gema penghabisan keluh
Orang tak punya rumah
Berjalan di padang luas
Ke permukiman yang tak pasti
Dan tak tahu lagi asalusulnya
Negeri apa
Nun langit gairah kelabu
Menaburkan pasir bila dipijak
Tak meninggalkan jejak
Orangorang tak pernah mau dengar
lagi keluhan hatinya sendiri
9
Anggur selusin piala
Merasuk dalam jiwa
Pesona tak lagi lahir dari pikiran
Dan akal pun jatuh ke balik impian
Sebelum larut dalam bisikan
Ada yang tercecer dari kehidupan
Sebab di balik tabir semesta
Suara sonder katakata
Banjarbaru, 76
edisi 9
Imperium Cinta
Kicau burungburung
Membuka pagi dalam gairah
Cahaya hidup yang mengalir
Dari imperium cinta
Begitu agung
Tapi adakah yang mengerti
Dan membuka hikmah yang teramat dalam itu
Dalam setiap gerak kehidupan
Oi hati dan jiwaku
Bernyanyilah dari bungabunga cinta
Yang mekar dari kelopakkelopak kamasutra
Wahai hidupku kitalah pengembara
setiap kepak sayap dan kicau
ke puncakpucak imperium cinta
Wahai
Banjarmasin, 1971
Bunga Kertas
:r.sehan.w
Setiap membayangkan bagaimana hari esok
Aku mesti merangkai tubuhmu
Dengan beratus harapan yang kutaruh di jambangan
Tapi aku selalu kehilangan warna
Manakala ujung kelopakmu
Meneteskan isak sembilu
Dan aku tak pernah lagi berani menghitung
Entah berapa helai yang telah kurangkai
Sebab akulah jambangan itu
Yang selalu gagal menghadapi hari esok
Dan aku tak pernah berani lagi
Menafsir setiap bunga dalam tidurku
Membayangkan bagaimana hari esok
Tubuhmu pudar dalam jambangan itu
Banjarmasin, 1973
Arakan Kernda Batu
: aksi solidaritas (1)
hari ini delapan Februari
keranda itu telah kami usung
di puncak tugu bundar
menuju pemakaman
yang kami bangun sendiri
dari bongkahan api hatinurani
16 seniman mengepal tangan
tak ada kata lain
kecuali lawan
kemunafikan
melintas cakrawala
sebab demokrasi telah terpidana
di negeri tercinta
kami usung keranda ini
dengan linangan airmata api
dengan langkah pasti :
Kembalikan Arief Budiman !
Banjarmasin, Selasa Sore,8 Februari 1972
Kicau burungburung
Membuka pagi dalam gairah
Cahaya hidup yang mengalir
Dari imperium cinta
Begitu agung
Tapi adakah yang mengerti
Dan membuka hikmah yang teramat dalam itu
Dalam setiap gerak kehidupan
Oi hati dan jiwaku
Bernyanyilah dari bungabunga cinta
Yang mekar dari kelopakkelopak kamasutra
Wahai hidupku kitalah pengembara
setiap kepak sayap dan kicau
ke puncakpucak imperium cinta
Wahai
Banjarmasin, 1971
Bunga Kertas
:r.sehan.w
Setiap membayangkan bagaimana hari esok
Aku mesti merangkai tubuhmu
Dengan beratus harapan yang kutaruh di jambangan
Tapi aku selalu kehilangan warna
Manakala ujung kelopakmu
Meneteskan isak sembilu
Dan aku tak pernah lagi berani menghitung
Entah berapa helai yang telah kurangkai
Sebab akulah jambangan itu
Yang selalu gagal menghadapi hari esok
Dan aku tak pernah berani lagi
Menafsir setiap bunga dalam tidurku
Membayangkan bagaimana hari esok
Tubuhmu pudar dalam jambangan itu
Banjarmasin, 1973
Arakan Kernda Batu
: aksi solidaritas (1)
hari ini delapan Februari
keranda itu telah kami usung
di puncak tugu bundar
menuju pemakaman
yang kami bangun sendiri
dari bongkahan api hatinurani
16 seniman mengepal tangan
tak ada kata lain
kecuali lawan
kemunafikan
melintas cakrawala
sebab demokrasi telah terpidana
di negeri tercinta
kami usung keranda ini
dengan linangan airmata api
dengan langkah pasti :
Kembalikan Arief Budiman !
Banjarmasin, Selasa Sore,8 Februari 1972
edisi 10
Pemakaman Demokrasi
: aksi solidaritas (2)
16 karangan bunga berselempang langit jingga
lagu padamu negeri dan syukur berkumandang
dari lautan hati yang gemuruh
badai selaksa duka
requiem lahir
sepanjang alir airmata
wajahwajah yang luka
tangantangan bersimpuh doa
matahari jelaga
16 karangan bunga berselempang langit jingga
hari ini kami risalahkan
semua padamu negeri tercinta
ia akan bangkit kembali
dan terpahat di dada
hari ini
di tanah pusaka ini
kami telah tiada sangsi
hanya ada satu pilihan
perang melawan tirani !
bjm, 8 Februari 1972
Hidup Diburu
: aksi solidaritas (3)
Hari ini gerimis mulai turun
malam pun mulai kelam
tekad baja erat lekat di dada
dari tugu bundar menapak sepanjang kota
kaki tak pernah gentar membela yang benar
sajaksajak melontarkan kegelisahan
atas ketiadapastian hukum di negari tercinta
lagulaguduka didendangkan
dari kakilangit
Jeep Pol 1312 memuntahkan pasukan perintis
mengepung dari segenap penjuru
tapi laut yang tenang telah kami badaikan
sepanjang khatulistiwa
sepanjang poros bumi yang berputar
dan pasukan itu pun tak bisa berbuat apaapa
gerimis telah menjadi hujan
kami dijebak dalam sebuah bus
ke padang perburuan
bapakbapak jangan kau anggap kami ini
bertendensi anjinganjing politik
sebab politik itu kotor sekali
di sini aspirasi atas persamaan kepentingan
dan kesadaran melihat ketidakpuasan situasi negri tercinta
apalah sebuah seltahanan
apalah pasal 510 kuhp dijeratkan
takkan surut melawan kemunafikan
sungguh wartawan foto yang sejak lama
mengikuti arakarakan perjuangan
filmnya dibredel oleh kepolisian
dan mulut koran di banjarmasin
di kunci dengan surat sakti
hari ini sembilan februari
16 mentari pagi
mengadakan upacara hidmat merahputih
di halaman komres jalan s.parman
orangorang pada tabjub mendengar padamu negeri
mengetuk setiap hatinurani
Banjarmasin, 1972
Kau Kirim Gerimis
tahukah kau kacajendela sejak tadi
tak mampu lagi menyimpan risalah
yang lahir dari desauan angin
sejauh pandang lewat kaca
hanya hurufhuruf yang memantulkan bayangbayang
siapakah lagi yang mampu mengejanya
selain renungan dan perhitungan hari
sepanjang usia
maka masihkah kau kirim gerimis itu
manakala aku mandul bersajak
kehilangan rumusan menyusun katakata apa
untuk belajar memahami sebuah makna
manisku,
ketika kaca jendela ini buram oleh sentuhan
lembar impian yang lepas dari tangkainya
maka masihkah kau kirim gerimis itu
barangkali manisku,
cuma kita berdua menengok ke cakrawala
sejauh pandang lewat kaca jendela
banjarmasin, 1973
Matinya Seorang Maling Ayam
peronda malam dengan perkasa memukul kentongan
disusul dengan kentongankentongan lainnya
kampung itu riuh dengan suara kentongan
campur aduk dengan teriakan : maling maling
orangorang kampung itu bagai serdadu ke medan perang
di tangannya parang pisau pentungan dan kayu
dan entah apa lagi
mengepung tiap jalan dan loronglorong
maling itu terjebak dalam kepungan
panik dan putus asa
orangorang itu beringas dengan teriakan
seperti gemuruh petir di angkara
membacok memukul menendang menghajar
membanting sumpah serapah
tak sempat ada satu jerit yang keluar dari mulutnya
kecuali sebuah kata yang hanya dimengerti oleh Tuhan
maling itu telah mati siasia
orangorang itu merasa puas seperti menang dalam
sebuah perang yang dahsyat
ternyata hukum manusia lebih kejam dari hukum Tuhan
hukum manusia bisa dipermainkan
bahkan bisa diperjualbelikan
tapi orangorang itu apakah berani berhadapan dengan
para koruptor yang mengisap darah negeri tercinta ini
sehingga kurus dan melarat
semuanya tahu tapi hanya diam
dalam kepengecutan
orangorang tak pernah peduli
bahwa maling itu patut diberi tanda jasa
bahwa ia terpanggil atas tanggung jawab
isteri dan anakanaknya menangis karena lapar
sedang ia tak punya apapa
sang ibu dan anakanaknya masih menangis
penuh harap untuk hari ini
namun sang bapa pergi dan tak pernah kembali lagi
banjarmasin, 1973
: aksi solidaritas (2)
16 karangan bunga berselempang langit jingga
lagu padamu negeri dan syukur berkumandang
dari lautan hati yang gemuruh
badai selaksa duka
requiem lahir
sepanjang alir airmata
wajahwajah yang luka
tangantangan bersimpuh doa
matahari jelaga
16 karangan bunga berselempang langit jingga
hari ini kami risalahkan
semua padamu negeri tercinta
ia akan bangkit kembali
dan terpahat di dada
hari ini
di tanah pusaka ini
kami telah tiada sangsi
hanya ada satu pilihan
perang melawan tirani !
bjm, 8 Februari 1972
Hidup Diburu
: aksi solidaritas (3)
Hari ini gerimis mulai turun
malam pun mulai kelam
tekad baja erat lekat di dada
dari tugu bundar menapak sepanjang kota
kaki tak pernah gentar membela yang benar
sajaksajak melontarkan kegelisahan
atas ketiadapastian hukum di negari tercinta
lagulaguduka didendangkan
dari kakilangit
Jeep Pol 1312 memuntahkan pasukan perintis
mengepung dari segenap penjuru
tapi laut yang tenang telah kami badaikan
sepanjang khatulistiwa
sepanjang poros bumi yang berputar
dan pasukan itu pun tak bisa berbuat apaapa
gerimis telah menjadi hujan
kami dijebak dalam sebuah bus
ke padang perburuan
bapakbapak jangan kau anggap kami ini
bertendensi anjinganjing politik
sebab politik itu kotor sekali
di sini aspirasi atas persamaan kepentingan
dan kesadaran melihat ketidakpuasan situasi negri tercinta
apalah sebuah seltahanan
apalah pasal 510 kuhp dijeratkan
takkan surut melawan kemunafikan
sungguh wartawan foto yang sejak lama
mengikuti arakarakan perjuangan
filmnya dibredel oleh kepolisian
dan mulut koran di banjarmasin
di kunci dengan surat sakti
hari ini sembilan februari
16 mentari pagi
mengadakan upacara hidmat merahputih
di halaman komres jalan s.parman
orangorang pada tabjub mendengar padamu negeri
mengetuk setiap hatinurani
Banjarmasin, 1972
Kau Kirim Gerimis
tahukah kau kacajendela sejak tadi
tak mampu lagi menyimpan risalah
yang lahir dari desauan angin
sejauh pandang lewat kaca
hanya hurufhuruf yang memantulkan bayangbayang
siapakah lagi yang mampu mengejanya
selain renungan dan perhitungan hari
sepanjang usia
maka masihkah kau kirim gerimis itu
manakala aku mandul bersajak
kehilangan rumusan menyusun katakata apa
untuk belajar memahami sebuah makna
manisku,
ketika kaca jendela ini buram oleh sentuhan
lembar impian yang lepas dari tangkainya
maka masihkah kau kirim gerimis itu
barangkali manisku,
cuma kita berdua menengok ke cakrawala
sejauh pandang lewat kaca jendela
banjarmasin, 1973
Matinya Seorang Maling Ayam
peronda malam dengan perkasa memukul kentongan
disusul dengan kentongankentongan lainnya
kampung itu riuh dengan suara kentongan
campur aduk dengan teriakan : maling maling
orangorang kampung itu bagai serdadu ke medan perang
di tangannya parang pisau pentungan dan kayu
dan entah apa lagi
mengepung tiap jalan dan loronglorong
maling itu terjebak dalam kepungan
panik dan putus asa
orangorang itu beringas dengan teriakan
seperti gemuruh petir di angkara
membacok memukul menendang menghajar
membanting sumpah serapah
tak sempat ada satu jerit yang keluar dari mulutnya
kecuali sebuah kata yang hanya dimengerti oleh Tuhan
maling itu telah mati siasia
orangorang itu merasa puas seperti menang dalam
sebuah perang yang dahsyat
ternyata hukum manusia lebih kejam dari hukum Tuhan
hukum manusia bisa dipermainkan
bahkan bisa diperjualbelikan
tapi orangorang itu apakah berani berhadapan dengan
para koruptor yang mengisap darah negeri tercinta ini
sehingga kurus dan melarat
semuanya tahu tapi hanya diam
dalam kepengecutan
orangorang tak pernah peduli
bahwa maling itu patut diberi tanda jasa
bahwa ia terpanggil atas tanggung jawab
isteri dan anakanaknya menangis karena lapar
sedang ia tak punya apapa
sang ibu dan anakanaknya masih menangis
penuh harap untuk hari ini
namun sang bapa pergi dan tak pernah kembali lagi
banjarmasin, 1973
edisi 11
Seorang Anak Kecil Minta Susu
Kepada Ibunya Yang Mati
di sebuah rumah tua
di sudut sebuah kota
seorang anak kecil
menangis di samping ibunya
yang terbaring di sepotong tikar butut
berjuang mempertahankan sebuah nafas yang
terakhir
untuk meneteki satu tetes susu buat anaknya
busung lapar yang dideritanya
tak sembuhsembuh jua
satu tetes susu telah mengantarkan nyawanya
kehadirat tuhan yang mahakuasa
anak kecil itu masih menangis
dalam tetekan ibunya yang telah mati
ia terus menetek
dengan tangis ia berharap tetek ibunya mengalir
susu yang deras
dan malam itu tak ada lagi tangis
kecuali angin yang mendesis
rumah tua itu teramat lengang
di sisi tuhan
seorang ibu berwajah rembulan sedang meneteki
anaknya yang dahaga
banjarmasin,1973
Doa Selembar Daun
bila aku luruh
luruhlah dari tangkaiMu
luruh atas kasihsayangMu
bumi adalah sajadah
terhampar dari firmanMu
beri aku bumi
agar sujud abadi di rabbMu
sesungguhnyalah aku adalah daun
dari sebatang pohon
yang kutanam sewaktu masih segumpal darah
tapi perkenankanlah
inilah doaku yang paling terakhir
bila aku luruh
berilah aku luruh
luruh dari tangkai kasihsayangMu
banjarmasin, 1974
Mayat
perkara mayat
di kota ini
menjadi persoalan yang masih dipersoalkan
mayat
di emperemper, di sudutsudut pertokoan,
d i selokanselokan, di sungaisungai yang buntu
di bawah jembatan, di tempattempat kumuh
bahkan di muka kantor di tamantaman
dan entah di mana lagi
mayat mendebarkan bagi orangorang yang lewat
tapi ada juga hal yang sudah biasa
palingpaling menengok sebentar
rupanya yang paling repot adalah pemerintah
tata kota
mayat adalah sampah yang harus dibersihkan
dan petugas dinas sosial menggerutu bila ada mayat
apa lagi yang tidak beridentitas
sebab biaya penguburan sangat mahal
tanah untuk kubur semakin sempit
polisi juga pada sibuk mengamankan mayat
dari maling mayat
dan mahasiswamasiswa kedokteran
mencari kesempatan menuju mayat
siapa tahu ada mayat gratis
lumayan buat praktik bedah
tokohtokoh agama dan pemukapemuka masyarakat
sudah cape
ke tempattempat ibadah
ke rumahrumah duka
seniman, cendekiawan, dan perkumpulan hatinurani
turun ke jalanjalan mengarak poster, spanduk dengan
beragam tulisan,
yelyel dan pertunjukan teater mayat
dan ditempat lain
serikat pedagang keranda dan persatuan penggali
kubur
lebih riuh lagi mempertahankan haknya
kaum legislatif dan eksikutif sudah kehilangan akal
malah ada yang kasakkusuk
menanggapi aspirasi tentang mayat
dalam sebuah negeri yang tak ubahnya sesosok
mayat
banjarmasin, 1974
Kepada Ibunya Yang Mati
di sebuah rumah tua
di sudut sebuah kota
seorang anak kecil
menangis di samping ibunya
yang terbaring di sepotong tikar butut
berjuang mempertahankan sebuah nafas yang
terakhir
untuk meneteki satu tetes susu buat anaknya
busung lapar yang dideritanya
tak sembuhsembuh jua
satu tetes susu telah mengantarkan nyawanya
kehadirat tuhan yang mahakuasa
anak kecil itu masih menangis
dalam tetekan ibunya yang telah mati
ia terus menetek
dengan tangis ia berharap tetek ibunya mengalir
susu yang deras
dan malam itu tak ada lagi tangis
kecuali angin yang mendesis
rumah tua itu teramat lengang
di sisi tuhan
seorang ibu berwajah rembulan sedang meneteki
anaknya yang dahaga
banjarmasin,1973
Doa Selembar Daun
bila aku luruh
luruhlah dari tangkaiMu
luruh atas kasihsayangMu
bumi adalah sajadah
terhampar dari firmanMu
beri aku bumi
agar sujud abadi di rabbMu
sesungguhnyalah aku adalah daun
dari sebatang pohon
yang kutanam sewaktu masih segumpal darah
tapi perkenankanlah
inilah doaku yang paling terakhir
bila aku luruh
berilah aku luruh
luruh dari tangkai kasihsayangMu
banjarmasin, 1974
Mayat
perkara mayat
di kota ini
menjadi persoalan yang masih dipersoalkan
mayat
di emperemper, di sudutsudut pertokoan,
d i selokanselokan, di sungaisungai yang buntu
di bawah jembatan, di tempattempat kumuh
bahkan di muka kantor di tamantaman
dan entah di mana lagi
mayat mendebarkan bagi orangorang yang lewat
tapi ada juga hal yang sudah biasa
palingpaling menengok sebentar
rupanya yang paling repot adalah pemerintah
tata kota
mayat adalah sampah yang harus dibersihkan
dan petugas dinas sosial menggerutu bila ada mayat
apa lagi yang tidak beridentitas
sebab biaya penguburan sangat mahal
tanah untuk kubur semakin sempit
polisi juga pada sibuk mengamankan mayat
dari maling mayat
dan mahasiswamasiswa kedokteran
mencari kesempatan menuju mayat
siapa tahu ada mayat gratis
lumayan buat praktik bedah
tokohtokoh agama dan pemukapemuka masyarakat
sudah cape
ke tempattempat ibadah
ke rumahrumah duka
seniman, cendekiawan, dan perkumpulan hatinurani
turun ke jalanjalan mengarak poster, spanduk dengan
beragam tulisan,
yelyel dan pertunjukan teater mayat
dan ditempat lain
serikat pedagang keranda dan persatuan penggali
kubur
lebih riuh lagi mempertahankan haknya
kaum legislatif dan eksikutif sudah kehilangan akal
malah ada yang kasakkusuk
menanggapi aspirasi tentang mayat
dalam sebuah negeri yang tak ubahnya sesosok
mayat
banjarmasin, 1974
edisi 12
Doa Seorang Penggali Kubur
Tuhan aku tahu
Engkau mahapengasih dan lagi mahapenyayang
jangan Engkau hentikan tugas malaikat el maut
sebab ya Tuhan
Engkau mahamengetahui
sudah berapa hari ini anakanak dan isteriku tidak
makan
kami tak punya apaapa lagi untuk dijual
hutanghutang kami menumpuk
kami selalu melanggar janji untuk pembayarannya
rumah kontrakan sudah beberapa bulan menonggak
sedang upah kami begitu murah
itu pun dipotong untuk pembayaran yuran
perkumpulan
harga sembako semakin hari semakin meningkat
Ya Tuhan
perkenankanlah doa hambamu
amin
banjarmasin,1974
Kujukungkan Impian Ke Sungai
Martapura
kayuh apa tak tahulah
dari keyakinan mesti kukayuhkan
meski alir dan ombak
dalam pasangsurut
tak memberi alamat kayuh apa
atau pepohonan rambai
di tepitepi pantai
masih menyimpan berahi dendam
pada matahari yang makin tenggelam
kujukungkan impianku
kujukungkan
manakala sungai
masih memberi muara
banjarmasin,1974
Ketika Kapal Lepas Pelabuhan
: sui lan
masihkah kau di sana
dengan lambaian tangan
mencoba belajar
membaca sauh yang dinaikkan
dan peluit terakhir dibunyikan
karena laut teramat luas
arung memerlukan kesetiaan
karena ombak dan buih di buritan
tidak pernah lagi mengenal tepian
masihkah kau disana
menghitung harihari perjanjian
sementara aku mencoba membangun
pelabuhan dalam diriku sendiri
ketika kakilangit tak lagi memberi warna
banjarmasin, 1974
Tuhan aku tahu
Engkau mahapengasih dan lagi mahapenyayang
jangan Engkau hentikan tugas malaikat el maut
sebab ya Tuhan
Engkau mahamengetahui
sudah berapa hari ini anakanak dan isteriku tidak
makan
kami tak punya apaapa lagi untuk dijual
hutanghutang kami menumpuk
kami selalu melanggar janji untuk pembayarannya
rumah kontrakan sudah beberapa bulan menonggak
sedang upah kami begitu murah
itu pun dipotong untuk pembayaran yuran
perkumpulan
harga sembako semakin hari semakin meningkat
Ya Tuhan
perkenankanlah doa hambamu
amin
banjarmasin,1974
Kujukungkan Impian Ke Sungai
Martapura
kayuh apa tak tahulah
dari keyakinan mesti kukayuhkan
meski alir dan ombak
dalam pasangsurut
tak memberi alamat kayuh apa
atau pepohonan rambai
di tepitepi pantai
masih menyimpan berahi dendam
pada matahari yang makin tenggelam
kujukungkan impianku
kujukungkan
manakala sungai
masih memberi muara
banjarmasin,1974
Ketika Kapal Lepas Pelabuhan
: sui lan
masihkah kau di sana
dengan lambaian tangan
mencoba belajar
membaca sauh yang dinaikkan
dan peluit terakhir dibunyikan
karena laut teramat luas
arung memerlukan kesetiaan
karena ombak dan buih di buritan
tidak pernah lagi mengenal tepian
masihkah kau disana
menghitung harihari perjanjian
sementara aku mencoba membangun
pelabuhan dalam diriku sendiri
ketika kakilangit tak lagi memberi warna
banjarmasin, 1974
edisi 13
Layang Layang
kunaikkan layanglayang ketika kau rebahan di sebuah padang tak berpohon
angin yang kau hembuskan mendorong aku mengulurkan benang sampai menyentuh awan
aku tak dapat lagi menahan betapa kencangnya angin
dalam desahmu yang menggairahkan
ketika langit memberi warna pelangi
yang membentang kesegenap penjuru
aku kehilangan balance
dan layanglayangku putus
melayang jauh sekali
dan jatuh ke lembah kesadaranku
dalam aku termangu
memandang layanglayangku yang hancur
di pangkuan isakmu
banjarmasin,1975
Aku Kembara Mencarimu Sui Lan
setiap tempat persinggahan
aku mencarimu
sebab benih yang kutanan dalam rahimmu
tak lunas sepanjang usiaku
walau langkahku senantiasa kehilangan keseimbangan
letih dan perih tak pernah kuhiraukan
tapi yang aku risaukan
mengapa tak kau beri aku alamat
di setiap tempat persinggahan
kau tak lepas dari tidurku
manakala jalan memberi persimpangan
atau loronglorong
yang mana harus kutempuh
sayangku,
bila pun ajal kan tiba
ini bukanlah pemberhentian
dalam sebuah pengembaraan
banjarmasin, 1975
Lilin Merah
di hari raya Changyang Jie ini
tidak ada gunung Tai San
tapi kau berkata, kita ada gunung Semeru
yang memberi makna dari apa yang kita impikan
kita bangun gubuk di bawah bulan purnama
sambil menggubah liriklirik chun chiu
lalu kita dendangkan
jinse di jemariku
dan qiangdi di bibirmu
tapi
di hari raya Changyang Jie kali ini
aku tak berdua lagi dalam gubuk ini
mabuk di kukus lilin merah
dan hanyut di sungai Changjiang
banjarmasin,1975
chun chiu : nyanyian klasik China
jinse : sejenis kecapi
qiangdi : sejenis seruling
Changyang Jie : hari raya tradisional China
Aku Tersesat Dalam Gumpalan Pekat
seribu kunangkunang membangun
kerlip pada sebuah kelam
tibatiba kau mengental dalam ingatan
kemudian menjelma
nyala api yang membakar igauan
lalu aku luruh dalam sebuah risau
sembilu
luruh
seperti sayap kapas
mencari wajah
di antara
katakata
yang berserakan di kaca
duka
:
seperti musafir
kehilangan alamat
aku tersesat dalam gumpalan pekat
banjarmasin,1976
kunaikkan layanglayang ketika kau rebahan di sebuah padang tak berpohon
angin yang kau hembuskan mendorong aku mengulurkan benang sampai menyentuh awan
aku tak dapat lagi menahan betapa kencangnya angin
dalam desahmu yang menggairahkan
ketika langit memberi warna pelangi
yang membentang kesegenap penjuru
aku kehilangan balance
dan layanglayangku putus
melayang jauh sekali
dan jatuh ke lembah kesadaranku
dalam aku termangu
memandang layanglayangku yang hancur
di pangkuan isakmu
banjarmasin,1975
Aku Kembara Mencarimu Sui Lan
setiap tempat persinggahan
aku mencarimu
sebab benih yang kutanan dalam rahimmu
tak lunas sepanjang usiaku
walau langkahku senantiasa kehilangan keseimbangan
letih dan perih tak pernah kuhiraukan
tapi yang aku risaukan
mengapa tak kau beri aku alamat
di setiap tempat persinggahan
kau tak lepas dari tidurku
manakala jalan memberi persimpangan
atau loronglorong
yang mana harus kutempuh
sayangku,
bila pun ajal kan tiba
ini bukanlah pemberhentian
dalam sebuah pengembaraan
banjarmasin, 1975
Lilin Merah
di hari raya Changyang Jie ini
tidak ada gunung Tai San
tapi kau berkata, kita ada gunung Semeru
yang memberi makna dari apa yang kita impikan
kita bangun gubuk di bawah bulan purnama
sambil menggubah liriklirik chun chiu
lalu kita dendangkan
jinse di jemariku
dan qiangdi di bibirmu
tapi
di hari raya Changyang Jie kali ini
aku tak berdua lagi dalam gubuk ini
mabuk di kukus lilin merah
dan hanyut di sungai Changjiang
banjarmasin,1975
chun chiu : nyanyian klasik China
jinse : sejenis kecapi
qiangdi : sejenis seruling
Changyang Jie : hari raya tradisional China
Aku Tersesat Dalam Gumpalan Pekat
seribu kunangkunang membangun
kerlip pada sebuah kelam
tibatiba kau mengental dalam ingatan
kemudian menjelma
nyala api yang membakar igauan
lalu aku luruh dalam sebuah risau
sembilu
luruh
seperti sayap kapas
mencari wajah
di antara
katakata
yang berserakan di kaca
duka
:
seperti musafir
kehilangan alamat
aku tersesat dalam gumpalan pekat
banjarmasin,1976
Langganan:
Postingan (Atom)